Jumat, 30 November 2012

03 Agustus 2011 Slideshow Slideshow

03 Agustus 2011 Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ 03 Agustus 2011 Slideshow Slideshow ★ untuk Jakarta, Tasikmalaya and Bandung. Slideshow perjalanan gratis yang menakjubkan di TripAdvisor

Jumat, 09 November 2012

Orang Tua dan Keluarga



 Tepat Kemarin tanggal 31 Oktober 2012 anakku Dhisa Aqilla Oktaviany Genap 2 tahun,,, ! betapa bahagianya aku dan istriku membesarkannya, tak terasa Waktu terus berputar dengan seiringnya masa -ke masa, tapi kini hari ini Jum'at tanggal 09-11-212 adalahj 1 hari besok merayakan ulang tahunya...!! betapa sedih hati ini dimana, hari bahagiannya dia aq tidak di sampingnya...! sungguh Ironis, tapi mau bagimana lagi.
Jarak dan waktu yang tak bisa mempertemukan kita, tapi aku yakin dengan keadaan ini dimana menjadikan aku seorang Bapak, Suami yang selalu menyayangi dan mencinta dengan tulus jiwa dan raga, keluarga. indah memang bila setiap pulang kerja ada yang menyambut dengan senyuman yang manis dan suara yang merdu dengan panggilan "papa........@##. tapi ga dengan aku,,, aku pulang setiap 1 bulan sekali ke Tasikmalaya.kapan Kita akan di satukan dalam rumah dan jarak yang dekat. semoga kesuksesan dan kesenangan selalu ada untuk keluarga kami,, hanya Padamu kami bersimpuh Ya Allah..!!

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.

PERTAMA, cuek/tidak peduli/tidak mengerti kisah ini.

KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.

KETIGA, tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, tetapi tidak melakukan apapun.

KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, lalu segera bergerak aktif untuk lebih memperhatikan kedua orangtuanya dan menjadi seorang anak yang lebih berbakti.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil menyadarkan seseorang akan betapa pentingnya orangtuanya. Bayangkan kebahagiaan seorang anak yang bersyukur bahwa ayah dan ibunya masih hidup, lalu berusaha membahagiakan mereka. Lalu orangtuanya yang begitu bahagia mengetahui bahwa anaknya juga begitu mencintainya, seorang anak yang berbakti. Kebahagiaan ini lebih berharga daripada tumpukan emas permata. Mereka sungguh beruntung dengan KEHADIRAN ANDA di dunia ini, yang BERMURAH HATI untuk menyebarkan kisah ini. Ayah, Ibu, Ketahuilah, Saya Juga Mencintaimu Dengan Segenap Jiwa Ragaku….

Minggu, 03 Juni 2012

Kecintaanku Pada keluargaku.



 

 

 

Aku, Istriku dan Anakku

 

Aku tidak tahu dari mana harus memulai menuliskan beberapa rumpun kalimat buatmu, wahai istriku. Aku juga tidak tahu apakah kepolosanku dan ketulusanku ini akan mendapat sambutanmu. Tapi aku tiada pedulikan itu. Yang pasti, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku adalah suamimu.
Aku tahu bahwa sebagai suami ternyata aku sangat membutuhkanmu, aku katakan ini sejujurnya. Lalu apakah engkau juga sangat membutuhkan aku, suamimu, wahai istriku? Maafkan aku atas pertanyaan ini. Bukan aku meragukan cintamu padaku, aku hanya ingin meyakinkan diriku. Sebab, kebanyakan istri kerabat maupun sahabat-sahabatku pun sangat besar rasa butuhnya terhadap suami mereka. Oleh sebab itulah aku mencarimu untuk kujadikan istri, sebab engkau adalah seorang wanita yang sholihah, lembut, sopan santun, mulia, bertakwa, suci, menjaga diri dan penuh kasih sayang.
Istriku, aku tidak segan-segan berterus terang kepadamu, meski hanya dalam bentuk goresan tinta kita ini di atas lembaran kertas yang juga milik kita, bahwa aku sangat membutuhkanmu. Dan aku tidak menginginkan dari itu semua selain agar tumbuh rasa dalam dada kita berdua akan pentingnya saling menjaga hubungan baik di antara kita. Dan bahwa hubungan yang baik itu jauh lebih mulia daripada kita berlomba-lomba dengan maksud agar diketahui siapa di antara kita berdua yang lebih unggul. Aku berharap engkau pun telah memahaminya.
Istriku, jujur aku katakan bahwa keberadaanmu sebagai istri bagiku kurasakan sangat penting bagi diriku, akalku, hati serta jiwaku. Bahkan sangat penting bagi kehidupanku juga setelah kematianku. Maka kutuliskan suratku ini untukmu, semoga engkau benar-benar mengerti betapa tingginya kedudukanmu sebagai seorang istri, betapa beratnya wasiat agama kita yang telah dibebankan kepadaku setelah aku menikahimu, dan betapa berartinya dirimu bagiku, suamimu.
Istriku, jujur kukatakan, bagiku engkau laksana permata yang sangat berharga yang tadinya aku tak tahu dimana engkau berada dan ke mana aku harus mencari.
Sungguh dunia ini penuh dengan perhiasan, sampai aku tidak kuasa memilih perhiasan mana yang harus kuambil untuk kumiliki, sampai akhirnya Alloh memberikan petunjuk kepadaku, suamimu ini, yang telah payah dan lelah mencarimu sampai akhirnya aku menemukanmu dan menjadikanmu sebagai istri. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya . Aku tidak mengada-ada untuk sekedar membesarkan hatimu, namun begitulah Rosululloh telah menyatakannya :
“Dunia ini tiada lain hanyalah perhiasan, dan tak ada satu pun dari perhiasan dunia ini yang lebih utama daripada seorang istri yang sholihah.” [1]
Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, jujur kukatakan, bagiku engkau adalah sumber kebahagiaan dan penderitaanku. Engkau adalah penghias rumah tempat tinggalku dan kendaraan mewahku, dan engkau adalah sebaik-baik tetanggaku. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya . Aku tidak mengada-ada untuk mendapat tempat di hatimu, namun begitulah Rosululloh telah mengabarkannya.
“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan; istri sholihah, rumah yang lapang nan luas, tetangga yang sholih dan kendaraan yang nyaman. Dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan; tetangga yang jelek (akhlaknya), istri yang jelek (akhlaknya), rumah yang sempit dan kendaraan yang tak nyaman.” [2]
Istriku, tahukah kau bahwa aku bisa berbahagia bersamamu dan bisa sengsara lagi menderita olehmu? Bukan aku tidak percaya kepadamu bahwa engkau akan membahagiakanku, tentunya engkau bisa memilih. Sebab, aku sudah tahu engkau adalah seorang wanita yang memiliki kecerdasan, apakah engkau akan menjadi sumber kebahagiaanku atau menjadi sumber penderitaanku? Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya, aku berbahagia bersamamu di atas keberkahan hidup bersamamu yang telah dianugerahkan kepadaku, tentunya juga kepadamu. Aku merasa bahagia meski menurut orang lain aku sengsara, aku tidak menyesali banyaknya penderitaan, namun aku sangat berharap keberkahannya. Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, jujur kukatakan bahwa tiada sebuah rumah pun yang akan kupandang indah dan kurasa nyaman meski seluas apapun rumah itu bila aku tinggal di dalamnya tanpamu. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya, sungguh aku bangga padamu, istriku, karena kini aku rasakan rumahku begitu teduh, tentram dan nyaman bagiku setelah engkau yang menjadi pendampingku sejak pernikahan dulu. Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, jujur kukatakan, tiada kendaraan mewah yang nyaman aku kendarai meski apapun jenisnya dan berapa rupiah pun harganya jika engkau tidak bersamaku di atas kendaraan itu. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya , sebab aku merasa tiada tetangga yang berdampingan denganku saat ini, baik di rumahku maupun di kendaraanku yang kurasakan kesholihannya selain dirimu. Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, sejujurnya kukatakan, bagiku engkau adalah ukuran kebaikanku di duniaku. Semoga engkau tahu dan memahami ini. Betapa berat amanah yang telah dipikulkan di atas pundakku setelah aku menikahimu. Aku diwasiati untuk menjagamu, bahkan aku diingatkan sekali lagi dan berikutnya dan berikutnya demi kebaikanmu. Aku mengetahui hal ini bukan sekedar mengikuti perasaanku, juga bukan berdasarkan buaian mimpiku, bukan pula dari lamunan dan khayalanku. Namun aku mengerti dan paham lalu seyakin-yakinnya aku yakini dari sabda seorang manusia yang tidak didustakan kabarnya dan tidak dimaksiati perintahnya. Tahukah dirimu bahwa beliau telah menjadikan bagaimana caraku mempergaulimu dalam kebersamaan ini sebagai tanda baik buruknya akhlakku? Beliau pernah bersabda:
“Kaum mukminin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian ialah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya” [3]
Oleh karenanya, istriku, aku tidak ingin menjadi seorang yang berakhlak buruk sebab tidak bisa berbuat baik kepadamu, dan aku berharap engkau membantuku agar aku bisa memperbaiki akhlakku, (yaitu) dengan memudahkan caraku agar bisa berbuat baik kepadamu. Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, bila engkau mendapati kebaikanku, sesungguhnya aku tidak berharap perhatianmu, aku juga tidak berharap pujianmu. Namun, aku hanya ingin semoga Alloh menjadikanmu istri yang sholihah yang berbuat baik kepadaku. Dan, bila engkau mendapatiku tidak berbuat baik kepadamu, semoga kesholihahanmu bisa membuka pintu maafmu bagiku, dan semoga Alloh Yang di atas sana memaafkan kekhilafanku.
Istriku, sebenarnya masih banyak yang ingin aku goreskan dalam lembaran ini. Namun, aku cukupkan dengan mengatakan di ujung suratku ini, bahwa pada akhirnya engkau adalah pelabuhan bahteraku yang aku akan merasa tenang setelah tadinya jiwaku diliputi kecemasan dan ketakutan akan dalam dan dahsyatnya gelombang samudra kehidupan saat masih sendiri sebelum kehadiran seorang istri, dan bagiku ialah dirimu. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian kepada-Nya, dan semoga Dia memberkahi hari-hari kita berdua, dalam suka maupun duka.
Istriku Dede Ratnasari, Engkau telah memberinkanku kebahagiaan yang berlipat-lipat ganda, dengan ketabahan hatimu dan jiwa ragamu. Dan di amanatkan kepada kita berdua Anak yang Sholehah, Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya dengan tidak ada lagi kebahagiaan terbesarku adalah mendapatkan keturunan darimu….!!
Ingin Sekali diri ini dekat denganmu, tapi kita belum di izinkan untuk bersatu, Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya dan dengan canda tawa dari anak kita, menjadikan rumah sebagai cahaya yang sangat terang nan bederang, sungguh bahagia yang tak terhingga dari Alloh.
Dhisa Aqqilah Oktaviany sebutan untuk anak kita yang cantik dan sholehah semoga anak kita menjadi keturunan yang yang menjunjung cinta yang hakiki yaitu kepada Alloh swt, nabi Muhamad dan orang tuanya Aminnn.
Dari yang mencintaimu karena Alloh dan untuk Alloh , aku, suamimu.
Penulis: Esta Yudhi Pratama
Sumber artikel: Majalah Al-Mawaddah
Catatan kaki:

[2] HR Ibnu Hibban no.1232 dishohihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah
[3] HR Tirmidzi no.1082, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah

Kamis, 17 Mei 2012

         Indah.... Rasanya walaupun kehidupan kami bisa di bilang pas-pasan tapi kami yakin dan pasti akan meraih kesuksesan. Hari demi hari kami lewati bersama melewati bathera rumah tangga, dengan suka duka yang selalu menyelimuti kami  setiap detik, menit, jam bahkan setiap hari. Aktivitas kami berbeda, Istri saya Dede ratnasari Adalah Seorang Tenaga Pendidik Di SDN 1 Cikawung Cikuya, Culamega Kab, Tasikmalaya, dan saya sendiri adalah seorang Pengamanan di Salah satu kampus Terkenal di Jakarta Bina Nusantara Universty International.
       Inilah Anak Kami Yang Bernama Dhisa Aqillah Oktaviany. Anak Kami Lahir pada hari Minggu  tanggal 31 Oktober 2010 Pukul 17.53 Bertepatan dengan Adzan Ma'grib dan persalinanya melalui sesar di Rumah Sakit Umum Tasikmalaya..

                                                           
                                  Dan saya sendiri OEDEL BANOY ATSE

                                                                     

Kamis, 03 Mei 2012

Keluarga ku surga ku

Semuanya adalah anugrah Allah terhadap diriku....!!! Aku Mempunyai istri Bernama Dede Ratnasari dan Mempunyai anak Bernama Dhisa Aqqilah Oktaviany, walaupun keluarga kita kecil tapi kami bahagia.. dengan keadaan kami yang serba kecukupan...!! Aku berasal dari wilayah bogor